Kehidupan dan Takdir

Dhedi R Ghazali | Monday, September 07, 2015 | 2komentar

Kehidupan dan Takdir

Kehidupan ini telah membawa kita berlayar dari pelabuhan satu ke pelabuhan lain, menunjukkan tempat demi tempat yang belum pernah kita sambangi. Takdir yang seringkali disalahkan, memindahkan dari tempat tinggi ke rendah serta sebaliknya. Sedangkan kita terlahir untuk senantiasa bergaul dengan keduanya. Terdengar tawa, tangis serta suara-suara mengerikan dan juga terlihat hal-hal yang saling tumpang tindih, berlomba untuk tetap berada di atas.

Jiwa kita bebas berkeliaran mencari pemuasan atas nama nafsu. Indera berjalan-jalan ke arah yang kian tak tentu. Menawarkan segala yang semu, dan kita menerimanya tanpa malu.
Kebebasan, bagaikan meja bundar yang diputari oleh wajah-wajah kelaparan, bersiap melahap hidangan dengan penuh kerakusan. Kita, yang merasa paling bijaksana, menelan ludah serambi mencari kesempatan untuk mencuri semua yang tersaji, mengisi perbekalan untuk diri sendiri tanpa peduli.

Lihatlah, siang dan malam silih berganti tanpa permisi. Menyampaikan salam perpisahannya, sedang kita tak pernah memperdulikannya. Kita lebih disibukkan mencari harta karun dari peta yang diberikan setan dengan wajah berpura-pura.

Pada akhirnya, saat kita tersungkur jatuh, hati dan jiwa menjerit mencaci-maki takdir yang tak pernah salah, tanpa pernah memohon pertolongan kepada Tuannya. Sedangkan mulut tanpa henti mengeluarkan busa yang beraroma anggur.

Ya, inilah kita, kehidupan dan takdir. Kita berpegang teguh kepada sebuah keyakinan, hanya saja kita memegangnya dengan sebelah tangan. Sementara Sang Tuan, senantiasa memeluk erat dengan penuh kasih sayang.
 
Gubuk, 2015


Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat. Silahkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun. Setelah membaca, saya harap juga bisa meninggalkan komentar serta like fans page kehidupan tanpa batas.  Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)

 
Kehidupan Tanpa Batas

Kesetiaan dan Pengorbanan

Dhedi R Ghazali | Sunday, September 06, 2015 | 0 komentar

Kesetiaan dan Pengorbanan

Aku bertanya tentang hal ihwal kesetiaan dan pengorbanan. Setiap isi kepala memberikan jawaban yang berbeda-beda namun sesungguhnya sama. Aku terdiam dalam sebuah pencarian yang kian pualam. Hingga pada akhirnya, di suatu tempat yang jauh dari keramaian kota, aku bertemu dengan sepasang suami istri yang telah renta.

Di gubuk mereka yang reyot, aku dijamu dengan air putih yang begitu mendinginkan tenggorokan dan pikiran. Setelahnya, kulihat rekah bunga di wajah mereka, diiringi cahaya terang dari kedua bola yang seharusnya mulai meredup. 

Aku bertanya, "Bagaimana bisa kalian hidup berdua di tengah keterbatasan dan kekurangan ini?"
Mereka hanya tersenyum tanpa mengatakan sepatah katapun.

Aku kembali bertanya, "Apakah kalian tak ingin hidup yang lebih baik dari ini? Istana yang megah, makanan yang serba ada, apakah kalian tak bermimpi untuk mempunyainya?"

Mereka kembali hanya tersenyum, kali ini senyumannya disertai dengan gerakan tangan yang tak kumengerti apa maksudnya.

Angin semilir tiba-tiba saja menerobos celah-celah anyaman bambu yang mengitari rumah kedua pasangan renta, tubuhku terasa disiram dengan air yang berasal dari mata air pegunungan. Kulihat pasangan renta itu menatapku dengan tatapan yang tajam. Kali ini kulihat mereka begitu serius.

Lelaki tua berkata, "Jika kau bertanya hal seperti itu, sesungguhnya aku tak akan mampu menjawabnya."

Perempuan renta di sampinya menganggukkan kepala mengiyakan apa yang dikatakan suaminya.
Kembali lelaki tua berkata, "Usialah yang akan menjawabnya. Kau masih muda wahai anakku, maka carilah jawaban di setiap pertanyaan yang ada di perjalanan hidupmu. Carilah sendiri hingga usiamu yang akan menjawabnya."

Aku semakin bingung dengan apa yang diucapkannya, hingga pada akhirnya isteri dari lelaki tua itu berkata, "Ini tentang kesetiaan dan pengorbanan, anakku. Kesetiaan kepada yang menciptkan kesetiaan itu sendiri dan pengorbanan terhadap yang memberikan kasih sayang tanpa batas. Dan lihatlah kami serta hidup kami, inilah buah dari kesetiaan dan pengorbanan yang kami lakukan."

Tak lama kemudian, mataku tertuju di sebuah foto kusam yang terpajang di sudut ruangan. Kulihat foto kedua pasangan itu diapit oleh dua foto lelaki yang begitu gagah. Di sebelahnya kanan terlihat foto lelaki berseragam angkatan udara dan di sebelah kiri terpajang foto lelaki berseragam angkatan laut.

Pasangan itu kini melihatku dengan senyum yang tipis, mereka berkata, "Itu foto anak kami".


Gubuk, 2015


Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat. Silahkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun. Setelah membaca, saya harap juga bisa meninggalkan komentar serta like fans page kehidupan tanpa batas.  Semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Barangsiapa yg memberi petunjuk atas kebaikan, maka baginya adalah pahala seperti orang yg melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim)
 
Kehidupan Tanpa Batas

Tentang Novel "Rembulan Tenggelam di Wajahmu"

Dhedi R Ghazali | Saturday, September 05, 2015 | 0 komentar


Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Mungkin bagi para penikmat novel khususnya ciptaan Tere Liye, judul di atas tidaklah asing lagi. "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" adalah salah satu judul novel ciptaan penulis muda satu ini.
Novel tersebut bagi saya adalah salah satu novel yang memberikan efek "boombastis". Kenapa dan bagaimana bisa? Banyak hal yang saya dapatkan dari novel ini, selain gaya bahasa yang menarik bahkan boleh dibilang puitis, novel ini juga menawarkan ruang renung yang luar biasa bagi pembacanya.

Awal mula saya membaca novel ini adalah berawal dari ketidaksengajaan yang mungkin saja ketidaksengajaan itu erat hubungannya dengan isi yang disampaikan dalam novel buatan Tere Liye tersebut. 

Pada suatu ketika, jiwa dan batin saya sedang dalam keadaan yang kacau balau. Permasalahan bermunculan menghampiri tanpa jeda hingga membuat manusia bodoh ini acapkali menyalahkan keadaan yang sedang terjadi. Singkatnya, untuk menghilangkan penat itu saya putuskan berjalan-jalan di salah satu toko buku di Yogyakarta. Sebenarnya maksud awal datang ke toko itu bukanlah untuk membeli buku, hanya sekadar ingin berjalan-jalan saja. Di salah satu rak buku dimana kumpulan novel Tere Liye dipajang, mata ini langsung tertuju pada buku dengan sampul berwarna merah menyala yang berjudul "Rembulan Tenggelam di Wajahmu". Terlanjur tertarik, akhirnya saya lihat sampul bagian belakang dan membaca sinopsis yang ada. Entah kenapa, tiba-tiba saja ada terdengar bisikan mengatakan "Belilah dan bacalah! Kau akan menyukainya". Memang selama ini salah satu hobi saya adalah membaca novel, jadi tanpa pikir panjang akhirnya saya putuskan untuk membeli novel tersebut.

Sesampainya di rumah, novel itu tidak langsung saya baca. Malam hari sekitar pukul 11 malam, karena belum bisa tidur sebab kepenatan yang masih saja menghantui akhirnya saya membacanya. Satu lembar, dua lembar, terlihat isi novel biasa-biasa saja. Anehnya, hati ini seolah memaksa untuk tetap melanjutkan membaca. Lembar demi lembar terbuka, setiap lembar menyuguhkan rangkaian kata dan cerita yang begitu menarik. Ya, begitu menarik karena apa yang diceritakan ternyata tidak jauh beda dengan apa yang sedang saya rasakan. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang ada di otak manusia selama menjalani kehidupan. Pertanyaan tentang hidup dan kehidupan itu sendiri, tentang keadilan dan kekuasaan Tuhan serta tentang sebuah kesempatan. Dengan waktu 2 jam novel ini selesai saya baca.

Setelah selesai membacanya, batin mulai bergejolak. Mungkin saja ini adalah cara Tuhan untuk menjawab pertanyaan yang ada di benak selama ini. Jawaban dari Tuhan yang akhirnya saya temukan lewat perantara novel berjudul "Rembulan Tenggelam di Wajahmu". Ya, seperti halnya Rey(tokoh utama dalam novel) yang diberi kesempatan untuk bertanya 5 pertanyaan dan diberikan 5 jawaban, setidaknya seperti itulah yang sedang terjadi pada saya sewaktu membaca novel ini.

Lalu apa yang istimewa? Dari cerita di atas, ada hal yang sangat bermakna yang saya dapatkan. Ternyata memang Tuhan mempunyai banyak cara yang tak terduga untuk menjawab keluh kesah umatnya. Itulah yang penting. Selama ini kita acapkali menyalahkan keadaan yang berujung kepada pikiran bahwa Tuhan tidak adil. Dimanakah Tuhan saat kita dalam kesulitan? Saat batin dan jiwa dilanda kepenatan, atau saat permasalahan demi permasalah menghampiri hidup? Seharusnya pertanyaan itu tidak layak untuk muncul di benak manusia, sebab satu hal yang pasti bahwa Tuhan tidak akan pernah mendzalimi umatnya. Seharusnya manusialah yang dituntut untuk "peka" terhadap keadilan dan kasih sayang Sang Pencipta. Rembulan yang tenggelam di wajah manusia bukanlah karena-Nya, namun karena perbuatan manusia itu sendiri. Tak seharusnya rembulan itu tenggelam di wajah jika saja kita mampu menikmati betapa indahnya rembulan itu dengan mata kita, bukan justru dengan menundukkan wajah. Ingatlah bahwa apa yang terjadi memanglah sudah digariskan oleh-Nya, tapi semua akan tetap berdasar hukum sebab-akibat. Sesuatu yang terjadi bukanlah tanpa sebab dan setiap sebab pastilah akan menimbulkan akibat, dan yang perlu kita tahu adalah bahwa akibat tidak selalu negatif, tinggal bagaimana kita menyikapinya.


Gubuk, 2015
Kehidupan Tanpa Batas

Kumpulan Puisi Inspiratif

Dhedi R Ghazali | Friday, September 04, 2015 | 0 komentar
Daun Mana yang Akan Jatuh?

Kita tak pernah tahu berapa jatah umur kita sehingga tak akan pernah mampu menghitung sisa umur yang ada. Lebih celakanya, seringkali kita angkuh berkata, "Ah, kita masih muda, umur masih panjang." Kalimat tersebut keluar begitu saja tanpa disadari bahwa bisa jadi esok hari menjadi hari terakhir di dunia ini.

Ingatlah, manusia tak pernah tahu kapan dan di mana maut akan menjemput. Tak perduli berapa umurnya sekarang, bukankah daun muda bisa sewaktu-waktu lepas dari tangkainya?

Mari kita sejenak bercermin kepada perjalanan hidup Alm. Ustad Jefri. Banyak yang sudah tahu sebelum menjadi ustadz, Beliau pernah berada di lubang hitam yang gelap. Hingga pada akhirnya, kemauan untuk berhijrah membuahkan hasil. Akan tetapi, tak lama kemudian akhirnya Beliau harus mengakhiri perjalanan hidup di dunia untuk selamanya. Pertanyaannya, bagaimana jika Alm. tidak berkemauan dan berikhtiar untuk berhijrah saat itu? Bagaimana jika dia meninggal saat masih dalam lubang hitam? Semua bukan semata karena hidayah, tapi lebih dari itu, kemauan, niat dan usaha untuk berubah menjadi lebih baik adalah awal mulanya.

Tidakkah kita merugi jika waktu yang masih ada, justru terbuang sia-sia? Menunggu waktu tua tiba untuk menebusnya, padahal tidak pernah ada jaminan kalau hidup kita kelak bisa sampai pada usia renta.

Gubuk, 2015

 //

Kau dan Angin

tibamu
bagai kabar burung yang dikirimkan angin
di tengah padang ilalang
disaat kemarau berkepanjangan

kau
menyatu dalam tubuh angin
menari-nari di gurun
hanya debu di pelupuk mata
sebagai pertanda kau tiba

Gubuk, 2015

//

Tanah, Kemarau dan Hujan

aku adalah tanah
dan kemarau itu
datang tak tepat waktu
begitu juga hujan yang turun
menghukum tanpa ampun

aku adalah tanah
kau adalah kemarau
kau adalah hujan
dan dimanakah Tuhan?

GubukAksara, 2015
Kehidupan Tanpa Batas
 
Support : Copyright © Nov 2010. Kehidupan Tanpa Batas - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger